PALEMBANG, Fober.id – Pernyataan Wali Kota Palembang Ratu Dewa yang mengaku masih merasa “enjoy” di tengah kepungan kabut asap menuai sorotan. Pasalnya, di saat orang nomor satu di Kota Palembang itu mengaku masih nyaman beraktivitas dan berolahraga, data pemantauan kualitas udara justru menunjukkan kondisi yang berada pada level berbahaya.
“Kalau saya sebenarnya sih ya, sampai sekarang tidak ya, karena mungkin saya enjoy-enjoy saja,” ujar Ratu Dewa saat diwawancarai di Griya Agung Palembang, Senin (5/10/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan ketika kabut asap karhutla masih menyelimuti sejumlah kawasan Kota Palembang dan keluhan warga terkait gangguan pernapasan terus bermunculan.
Ratu Dewa juga mengakui menerima banyak laporan masyarakat yang mengalami sesak napas. Namun, dia mengatakan kondisi tersebut belum dirasakannya secara pribadi.
“Terus aktivitas olahraga masih rutin, saya kira begitu. Tapi banyak yang mengeluh ke saya demikian (sesak napas),” katanya.
Kontras dengan pernyataan tersebut, pemantauan kualitas udara pada Senin (5/10/2026) menunjukkan kondisi yang jauh dari kata aman.
Data pemantauan PM2.5 BMKG di Palembang bahkan mencatat konsentrasi sangat tinggi. Di Stasiun Talang Betutu, PM2.5 dilaporkan mencapai 881 µg/m³, sedangkan di Stasiun Musi 2 mencapai 802,3 µg/m³ pada waktu berbeda pada dini hari hingga pagi. Kondisi tersebut masuk kategori berbahaya.
Sementara laporan pemantauan ISPU Kementerian Lingkungan Hidup pada hari yang sama menunjukkan indikator PM10 mencapai 1.025 µg/m³ dan PM2.5 mencapai 554 µg/m³.
Dengan kondisi tersebut, persoalannya bukan lagi sekadar apakah seorang pejabat merasa sesak atau tidak. Persoalan yang lebih besar adalah bagaimana pemerintah memastikan masyarakat tetap terlindungi ketika indikator kualitas udara menunjukkan situasi yang mengancam kesehatan.
Kondisi udara tersebut juga beriringan dengan meningkatnya persoalan gangguan pernapasan di Palembang.
Data Dinas Kesehatan Kota Palembang mencatat kasus ISPA pada September 2026 mencapai 17.434 kasus, angka yang disebut sebagai yang tertinggi sepanjang tahun ini. Mayoritas penderita berasal dari kelompok usia anak-anak.
Di tengah angka tersebut, warga Palembang masih harus beraktivitas di luar rumah dengan kondisi udara yang dipenuhi asap.
Keluhan masyarakat pun bermunculan, mulai dari sesak napas, mata perih hingga batuk. Kondisi ini membuat pernyataan “enjoy” Ratu Dewa berpotensi menjadi kontras yang tajam dengan pengalaman warga yang justru merasakan dampak langsung kabut asap.(**)
