BANYUASIN, FOBER.ID — Empat penenun muda di Desa Merah Mata, Kabupaten Banyuasin, mulai menunjukkan hasil dari proses belajar yang mereka jalani. Baru sebulan mengikuti pelatihan, mereka telah menghasilkan empat lembar kain songket sebagai pijakan awal untuk menjaga keterampilan menenun tetap hidup di tengah generasi muda.

Langkah tersebut menjadi bagian dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PLN bertajuk “Kilau Songket Banyuasin: Mengenalkan Budaya, Menggerakkan Ekonomi Desa Merah Mata” yang berlangsung sejak Juli hingga November 2026.

Program ini tidak hanya diarahkan untuk mempertahankan tradisi menenun, tetapi juga membangun ekosistem usaha agar kerajinan songket memiliki nilai ekonomi dan pasar yang lebih luas.

Melalui program tersebut, PLN mendorong penguatan Kelompok Songket Jaya Bersama melalui regenerasi penenun, pengembangan produk, penguatan identitas merek hingga perluasan akses pasar.

General Manager PLN UIP3B Sumatera, Elvanto Yanuar Ikhsan, mengatakan pelestarian budaya akan lebih kuat jika berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

“Songket merupakan bagian dari identitas masyarakat Banyuasin yang perlu diwariskan. Kami ingin generasi muda tidak hanya mampu meneruskan keterampilan menenun, tetapi juga melihatnya sebagai peluang untuk berkarya dan meningkatkan ekonomi,” ujar Elvanto.

Program tersebut melibatkan 11 penerima manfaat, terdiri atas lima anggota Kelompok Songket Jaya Bersama, empat penenun muda, dan dua penjahit muda.

Tidak berhenti pada kemampuan menenun, para peserta juga diarahkan untuk mengembangkan produk turunan berbahan songket. Sejumlah produk yang diproyeksikan antara lain kemeja, blus, outer hingga tas, sehingga songket tidak hanya hadir sebagai kain tradisional, tetapi dapat masuk ke pasar fesyen dan kebutuhan gaya hidup modern.

Dalam pelaksanaannya, PLN melalui UPT Palembang menggandeng Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Banyuasin, Pemerintah Desa Merah Mata, Indonesia Songket and Fashion Festival (ISSF), serta Kelompok Songket Jaya Bersama.

Kolaborasi tersebut mencakup pengembangan desain dan produk, pembaruan logo serta kemasan, hingga dukungan proses pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual (HKI) untuk merek Songket Merah Mata.

Upaya memperluas pasar juga mulai diarahkan ke kanal digital. Pemasaran melalui Instagram telah menghasilkan transaksi awal. Dua kain songket telah terjual, sementara empat kain lainnya telah dipesan untuk September 2026.

Kelompok Songket Jaya Bersama juga dijadwalkan ambil bagian dalam Pameran Dekranas di Jakarta International Convention Center (JICC) pada 26 September 2026. Keikutsertaan tersebut diharapkan menjadi momentum untuk memperkenalkan Songket Merah Mata kepada pasar yang lebih luas.

Bagi PLN, penguatan kapasitas penenun dan akses pasar menjadi dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Keterampilan tradisional perlu dijaga, tetapi pada saat yang sama produk harus mampu mengikuti perkembangan selera konsumen dan memiliki nilai jual yang kompetitif.

Elvanto berharap program tersebut dapat menjadi fondasi bagi Songket Merah Mata untuk berkembang menjadi usaha masyarakat yang semakin mandiri dan berkelanjutan.

“Kami berharap Songket Merah Mata semakin dikenal, memiliki pasar yang lebih luas, dan semakin banyak generasi muda yang bangga meneruskan keterampilan menenun,” katanya.

Program Kilau Songket Banyuasin pada akhirnya diarahkan tidak sekadar menjaga warisan budaya. Lebih dari itu, program ini menjadi upaya mempertemukan tradisi, kreativitas generasi muda, dan peluang ekonomi agar songket tetap hidup sekaligus mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Desa Merah Mata. (Red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *